“INSPIRING WORDS FOR WRITERS” REVIEW

10.53

Hambatan saya kali ini dalam membuat postingan blog adalah pembendaharaan kata. Saya sering bingung untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan dalam kata-kata karena kata-kata yang saya miliki sedikit dan- terkesan- itu-itu saja. Maka dari itu saya menggiatkan diri untuk membaca-baca buku baik itu novel, biografi, ilmu pengetahuan dll. Karena saya bukan tipe orang yang setiap buku saya baca, saya hanya membaca buku-buku yang saya minat saja untuk dibaca jadi dalam proses mencari buku itu akan memakan waktu yang –lumayan- lama untuk memilih buku yang akan dijadikan bahan bacaan

Saya pernah bilang kepada salah satu temen saya –Sevty- kalau saya ini sekarang sedang buat blog tapi saya masih bingung mau nulis apa dan saya tidak mempunyai keterampilan lebih dalam menulis tapi disisi lain saya juga pingin –banget- untuk nulis di blog. Suatu ketika –udah kayak cerita dongeng penghantar tidur- temen saya ini bilang ada buku bagus untuk para penulis atau yang-baru-berniat- untuk menulis, isinya itu kata-kata motivasi gitu dan sangat direkondasikan karena buku itu juga yang mengubah pola pikir dia dalam menulis. Penasaran kan akhirnya saya minjem aja bukunya dan setelah saya baca itu, BENER terbukti sangat luar biasa. Selama saya membaca kata “ooohhh”, “ih ning enya nya” itu selalu saya ucapkan dan saya pun menjadi termotivasi untuk terus menulis terkhusus terus memposting tulisan di blog ini.

Bukunya karangan Mohammad Fauzil Adhim yang menurut penuturan di bukunya beliau adalah penulis dari buku paling fenomenal “Kupinang Engkau dengan Hamdalah” yang saya sendiri belum pernah baca buku itu –kudet maklumkanlah- dan terkenal juga dengan tulisannya yang inspiratif dan menggugah serta pilihan katanya yang menyentuh. Di produksi tahun 2005 pada cetakan pertama dan tebal halamannya 165 halaman. Inilah dia penampakan dari bukunya

Mau tahu apa isi dari bukunya?, oke saya akan sedikit share isi dari buku ini yang –dari salah banyak kata-katanya- membuat saya terperangah “nyalangap” karena takjub. Langsung saja karena saya terlalu panjang berbasa-basi inilah dia review dari buku “inspiring words for writers” cekidot...

...

”penulis yang berbakat gagal menemukan banyak alasan untuk tidak memulai tulisannya. Sedangkan orang-orang berbakat sukses selalu menentukan energi setiap kali gagal”

Ya kata-kata ini tertulis di halaman 17 dan –salah banyak- kata yang membuat saya kagum karena mempunyai makna yang dalam. Saya jujur ketika awal-awal mempunyai niatan untuk menulis selalu tidak ditindaklanjuti niat tersebut ke arah yang lebih serius, salah satu alasannya karena “saya tidak bisa menulis”. Banyak sekali alasan-alasannya yang akhirnya saya sendiri mengurungkan diri untuk menulis. Kata-kata ini membuat saya –sekarang- untuk tidak ragu untuk menuis karena –seperti penuturan diatas- orang yang berbakat sukses itu tidak banyak alasan untuk memulai tulisannya dan selalu menentukan energi setiap kali gagal.


“seringkali yang membuat ujung pena TERHENTI menunangkan kata adalah keinginan untuk melahirkan tulisan yang banyak DISANJUNG orang. Sementara yang memecah kebuntuan adalah sikap apa adanya dalam menuturkan kebenaran”

Pertama saya baca ini, jlebb, saya banget ini. Setiap saya buat postingan di blog atau saya sedang menulis sesuatu karangan, saya selalu ingin menghasilkan karya tulis yang bagus dan berisi kata-kata yang membuat orang bilang wow dan memuji saya. Karena ekspektasi yang terlalu tinggi dengan tidak diimbangi ilmu yang lebih menjadikan saya sangat sulit sekali dalam menuntuaskan tulisan saya. Kalian sudah baca postingan saya yang berjudul “siswa tingkat akhir” ? itu pada 2 paragraf awal saya membuatnya 2 hari 1 malam. Waktu yang cukup tidak wajar untuk menghasilkan sebuah tulisan yang hanya 2 paragraf saja.


“GAGASAN yang baik sering tidak tersampaikan karena kita sibuk memikirkan AWALAN. Padahal, awalan yang baik adalah CETUSAN GAGASAN itu sendiri”

Ini tercermin –yang diatas- ketika saya membuat 2 paragraf awal membutuhkan waktu kurang lebih 2 hari 1 malam. Paragraf awal emang sangat membingungkan, mau nulis apa dulu ya di awal ketika topik atau isi sudah di dapatkan. Ternyata yang saya lakukan iitu tidaklah benar. Langsung saja pada apa yang ingin disampaikan tidak usah ribet dan memusingkan diri sendiri. Tulislah apa yang sudah terfikirkan sebelum kita lupa.


“Tidak ada penghambat menulis yang lebih besar kecuali KETAKUTAN DINILAI. Tidak ada pengendali yang lebih baik kecuali KETAKUTAN MENEBAR KEBATILAN”

Ini pun salah satu penghambat saya –dulu- dalam menulis. Takut kalimat atau kata dari postingan ada yang ngomentari karena salah atau tidak nyambung. Seperti yang saya katakan tadi saya ingin menghasilkan karya tulis yang membuat orang tersanjung dengan tulisan saya karena itu kerap kali saya memasukkan istilah-istilah yang saya sendiri tidak terlalu memahaminya. Akhirnya bukannya menghasilkan tulisan yang intelek tapi malah “sengklek”. Selagi kita tidak menebar kebohongan dalam tulisan kita janganlah takut, tulislah apa yang kamu ingin tuliskan jangan ditakutkan selain kamu tidak sedang menyebarkan tulisan kebohongan.


“Imam Bukhari melakukan istikharah setiap kali akan menuliskan hadis di dalam shahih-nya yang terkenal. Imam Malik mengharuskan dirinya untuk mandi setiap kali menyampaikan hadis. Ada pula yang menjaga kesucian dirinya setiap kali menulis. Semua itu berpengaruh bukan pada pena, melainkan pada jiwa yang menggoreskannya menjadi kata. Kata-kata yang memiliki ruh, pengaruhnya akan senantiasa hidup melampaui zaman yang mampu dijalani oleh penulisnya. Boleh jadi yang kita tulis sami. Tetapi kekuatan ruhiyah itulah yang membedakannya. Wallahu a’lam bishawab”

Apa yang bisa kalian tangkap dari kalimat diatas? Kalau saya .......... bingung. Sepertinya sih memang –ini menurut saya ya- menulis itu tidak hanya soal kata, tapi jiwa dan hati pun perlu. Kita menulis dengan jiwa yang sehat, hati yang bersih akan mempengaruhi kata yang akan kita tuliskan. Ya simpelnya sih ketika kita mau menulis semua elemen harus diperhatikan dan dipersiapkan matang-matang. Dimulali dari diri kita sampai dengan alat-alat pendukung lainnya.


Sebuah goresan pena tajamnya bisa melebihi SERIBU PEDANG

Mengerikan sekali! Memang janganlah kita bermain dengan kata, ketika fitnah yang berasal dari ujaran seseorang dengan menggunakan kata lebih kejam dari pembunuhan, disini juga goresan pena yang menghasilkan sebuah kata tajamnya bisa melebihi seribu pedang. Yang pasti ketika kita bermain dengan kata, nyawalah yang akan menjadi taruhannya.


ORANG HEBAT menulis masalah berat dengan bahasa sederhana. ORANG YANG INGIN DISEBUT HEBAT menulis masalah sederhana dengan bahasa yang berat.

ini yang dulu saya lakukan, membuat pembahasan sederhana menjadi bahasan yang begitu serius karena penggunaan kata yang rumit dan berat –karena pingin disanjung tadi itu-. Tapi kadang sampai sekarang pun sifat itu masih tetep ada aja. Ya mungkin karena manusia perlu penghargaan dan pujian untuk membuktikan eksistensinya jadi setiap kali mau menghasilkan sebuah karya –misalnya- kita akan menganeh-anehkan karya itu dengan harapan orang akan menyanjung dan memuji kita. 


Penulis cerdas terampil membuat istilah untuk memudahkan penjelasan. Sementara yang lain SUKA MENGGUNAKAN ISTILAH RUMIT untuk memperpanjang penjelasan.

Nah ini nih, ini. saya kalau nulis selalu ingin menyisipkan istilah-istilah glamour yang pada akhirnya memperpanjang penjelasan dan alurnya malah bulak-balik nggak karuan. Kalau setiap kali saya baca buku-buku gitu sering sekali saya temukan istilah-istilah yang membuat tulisannya itu terkesan mewah dan saya juga pinginnya kayak gitu. Saya menyisipkan istilah-istilah di tulisan saya agar tulisan saya terlihatnya mewah tetapi malah sebaliknya.


PENULIS BESAR menuangkan kata karena membaca. Sementara mereka yang MABUK ingin disebut penulis, MEMBACA BUKU KARENA MAU MENULIS

Kalian pasti udah baca dan tau juga kan kenapa saya dipertemukan dengan buku ini. ya karena saya mau bikin blog dan memposting tulisan jadi saya sekarang sering baca-baca buku untuk memperkaya pembendaharaan kata saya. Saya sendiri sekarang mengusahakan untuk mengalihkan tujuan saya membaca yang tadinya hanya untuk nulis menjadi suatu kebutuhan untuk mendapatkan ilmu. 


kalau engkau sendiri MALAS MEMBACA, bagaimana engkau menyuruh orang lain RAKUS membaca tulisanmu?

Kalian pernah gak sih dapet kiriman bc di bbm yang isinya informasi atau pemberitahuan dan ditulis dengan sangat panjang lebar. Saya kalau dapet bc kayak gitu suka nggak saya baca alasan bodohnya adalah malas karena tulisannya panjang. Begitupun buku, saya gak terlalu suka dengan buku yang terlalu tebal dan sedikit atau tidak ada gambarnya. Alasannya pun sama karena malas, diliatnya pun sudah membosankan. Tetapi lihat sekarang, postingan saya kali ini saja lumayan pajang lebar dan saya berharap banyak orang yang membaca setiap tulisan yang saya posting? 

...

Ya mungkin itulah dia –yang saya anggap- review dari buku inspiring words for writers. Ini bukan lagi promosi buku ya saya sendiri bermaksud untuk berbagi ilmu yang saya dapatkan dari buku ini. syukur-syukur setelah membaca postingan ini ada yang termotivasi untuk mulai menulis. Saya sendiri prihatin ketika saya mendengar -dari salah satu teman saya- bahwa minat baca orang Indonesia tergolong rendah bila dibanding negara asia tenggara lainya dan buku yang dihasilkan tiap tahunnya pun masih kalah banyak dengan negara Singapura dan Malaysia. Kedua negara itu pun penjualan bukunya sangatlah besar walaupun penduduknya lebih sedikit dibanding negara kita. Maka dari itu ayo kita gemar membaca dan menulis. Mari kita buka jendela dunia dengan membaca dan memulai membuat dunia dengan menulis.






Siswa Tingkat Akhir

02.17

Sambil menulis ini saya juga berusaha mengingat-ngingat kembali masa SMA yang sudah 2 tahun berlalu –tua belum sih gue?- . masa SMA itu menarik untuk diceritakan dan indah untuk dikenang. Benar apa tidaknya itu tergantung orangnya tetapi mayoritas orang setuju dengan ungkapan diatas. Saya, bila saya tergolong minoritas dari apa yang orang lain rasakan. Kenangan-kenangan masa SMA saya tidak terlalu –bisa dibilang manis- layaknya orang kebanyakan. Saya menjalani masa SMA tidak jauh berbeda ketika saya menjalani masa SMP. berangkat-pulang-tidur terus saja seperti itu, tidak ada yang spesial dari masa sekolah yang pernah saya alami.


Berangkat dari pengalaman, bagaimana sih rasanya sekarang menginjak bulan Maret dan kalian berstatus sebagai siwa tingkat akhir?. “Rariweh” ya setidaknya itu yang pernah saya rasakan. Aktivitas di sekolah yang mulai padat, jam belajar ditambah dengan nama pengayaan yang sering dipelesetkan menjadi penganiyayaan sudah menjadi risiko kita. Belum lagi kepikiran bagaimana nanti setelah lulus, apakah akan lanjut sekolah atau kerja. Saya anak SMK memang dicetak untuk siap kerja tetapi bukan berarti setelah lulus harus kerja, kita juga memiliki kesempatan yang sama –seperti anak SMA- untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi.

 Balik lagi ke bulan Maret dimana kita dipersiapkan untuk menghadapi berbagai macam ujian dengan ditambahkannya jam belajar atau pengayaan. Sebenernya efektif tidak sih pengayaan. Yang pernah saya rasakan, pengayaan itu memang sangatlah menyiksa. Alasan kenapa menyiksa yang pertama adalah waktunya ditempatkan setelah kegiatan belajar mengajar yaitu sekitar siang menjelang sore yang dimana pada saat itu otak kita sudah terlalu lelah untuk bekerja lebih berat lagi. Kedua yaitu materi pengayaan yang mengulas soal ujian nasional dimana kita pun dipaksa untuk mengingat materi kelas 10 dan 11 yang –sebagian- sudah tidak ada lagi di memori kita. Belum lagi kalau pengayaannya kebagian diajar sama guru yang tidak sesuai dengan harapan dan keinginan kita habislah sudah, tamat riwayatmu.

Ketika masa-masa pengayaan itu saya sempat berpikir kemana saja ya saya 2 tahun ini, ketika diulas kembali materi dulu kok nggak bisa. Disusul dengan pertanyaan-pertanyaan yang menanyakan apa saja yang saya kerjakan selama di sekolah. Penyesalan demi penyesalan kemudian muncul, kenapa dulu tidak belajar dengan serius, tidak memperhatikan guru di depan, banyak waktu yang terbuang sia-sia hanya untuk tidur, makan, tidur, makan tidak diisi dengan aktivitas yang lebih bermanfaat. Akhirnya rasa penyesalan itu selalu menemani hari-hari saya pada saat itu.

Karena rasa penyesalan itu lah saya lebih bisa mengerti dan menerima kenapa diadakan pengayaan untuk kita terlebih kelas 12 yang akan menghadapi ujian nasional walaupun memang terkadang berat dan menyiksa tetapi apa mau dikata. Seharusnya kalau tidak mau pengayaan, dulu saya rutin mengulas pelajaran sekolah setiap harinya, latihan-latihan soal, membaca dan memahami materi yang telah disampaikan guru di depan kelas dengan begitu menjelang ujian di akhir masa sekolah, saya tidak terlalu dibebankan dengan ulasan materi-materi dulu karena sudah memahaminya.

Lagi, kebiasaan siswa tingkat akhir menjelang ujian-ujian itu adalah berhijrah. Mereka –sedikit-sedikit- akan lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa, bukan untuk diterima disisinya melainkan meminta untuk diberikan pertolongan dan kemudahan. Beban yang ditanggung siswa tingkat akhir ini bukan hanya ujian saja kedepannya setelah kita lulus, itu juga sudah mulai menjadi pikiran kita. Coba kalian perhatikan tempat peribadahan di sekolah, tiap tahunnya terpantau selalu penuh apalagi menjelang ujian. Tidak diragukan lagi pasti siswa tingkat akhir ini yang selalu memenuhi tempat peribadahan di sekolah. Ada juga sekolah yang setiap tahunnya mengagendakan berdoa bersama bagi para siswa yang akan menghadapi ujian nasional untuk meminta kelancaran selama ujian nanti. Berbicara pengalaman saya lagi di sekolah, pada saat menjelang ujian intensitas saya dalam beribadah sedikit-sedikit mulai ditingkatkan. Yang sebelum-sebelumnya sholat wajib selalu bolong-bolong jadi tidak, yang sebelum-sebelumnya jarang sholat sunah, jadi sering sholat sunah, yang sebelum-sebelumnya jarang mengaji, tiap malam jadi mengaji. Walaupun surga dan neraka hanya Allah yang menentukan tetapi saya rasa bila itu saya lakukan seumur hidup saya insyaallah bila masuk neraka pun saya tidak akan lama sepertinya. Entahlah saya merasa takut, melihat kemampuan saya yang masih terbilang kurang kemudian sekarang ini saya sudah menginjak tahun terakhir menjadi seorang siswa tetapi saya masih belum menentukan mau kemanakah saya kedepannya masih belum mempunyai tujuan yang pasti. Bimbang, galau itulah yang memotivasi saya untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan harapan saya diberi kemudahan dalam menjalani kehidupan yang akan saya lalui kedepannya. 

Setelah melewati berbagai macam ujian akhir tiba saatnya kita akan mendapatkan libur yang sangat panjang. Bahkan setelah ujian itu -bisa dipastikan- kita tidak akan lagi berhubungan dengan yang namanya tugas, ulangan, PR untuk kedepannya karena kita sudah hampir –dikatakan- selesai mengenyam bangku sekolah. Tapi percayalah itu bukanlah kabar gembira, berbeda ketika saat SMP libur panjang itu dihabiskan untuk persiapan kita menuju SMA beli baju baru, peralatan sekolah baru, mencari sekolah mana yang akan didaftarkan dll. Setelah lulus SMA kita tidak akan sesantai itu ketika menghabiskan liburan panjang kita. Kewajiban belajar kita sudah terselesaikan kedepan apakah akan lanjut sekolah lagi atau terjun ke dunia kerja. Setidaknya itu yang pernah saya alami –dihadapkan dengan dua pilihan sulit-, teman-teman yang  lainnya mungkin juga akan dihadapkan dengan pilihan yang –saya kira- sulit juga karena bagaimana pun keputusan kita sekarang akan menentukan bagaimana kita kelak. 

Berkonsultasi bersama guru BK dan orang tua adalah salah satu solusi terbaik ketika kita merasa bingung dan bimbang untuk memilih tujuan kita setelah lulus. Komunikasikan tujuan kalian kepada orang tua atau bila masih bingung dan tidak punya tujuan mintalah saran kepada mereka. Setelah itu barulah berkonsultasi ke guru BK. Bila ternyata kita memutuskan untuk melanjutkan sekolah, apa-apa saja yang harus dipersiapkan, mintalah saran kepaada guru BK universitas mana yang kira-kira sesuai dengan kemampuan kita. Tidak jauh beda juga bila keputusannya untuk kerja mintalah saran kepada beliau jenis pekerjaan apa yang sebaiknya kita pilih, mintalah lowongan kerja yang sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Terlebih anak SMK pasti sangatlah mudah mendapatkan informasi mengenai lowongan pekerjaan.

Masalah belumlah selesai wahai para siswa tingkat akhir, dengan kamu sudah punya tujuan setelah lulus, bukan berarti kallian bisa lega masalah yang baru akan segera datang. Saya yang lebih memilih untuk melanjutkan sekolah kembali di hadapkan dengan pilihan, universitas negeri atau swasta. Otak dan pesak yang menjadi pertimbangan saya untuk memilih universitas mana yang akan dituju. Sekiranya masuk universitas negeri akan lebih baik dibanding swasta dan itu menurut persepsi saya. Tetapi masalahnya masuk universitas negeri itu tidaklah mudah seperti masuk sekolah negeri. Kita harus bertarung dengan ribuan bahkan ratus ribuan orang di seluruh Indonesia untuk memperebutkan kursi universitas negeri yang kita tuju. Saya yang hanya anak SMK pada saat itu sedikit berkecil hati untuk bisa percaya diri memenangkan pertarungan yang mengerikan itu. Dicoba dulu saja siapa tau bisa masuk, itu mungkin yang terlintas dipikiran saya. 

Alhamdulliah atas kerja keras dan doa akhirnya bisa melewati masa-masa kritis siswa tingkat akhir. Sebenarnya pada saat hari pelepasan di SMK –perpisahan- saya sendiri masih belum mendapatkan kejelasan mengenai status baru saya  –menjadi seorang mahasiswa- karena pada saat itu saya dinyatakan gugur dalam pertarungan memperebutkan kursi universitas negeri melewati jalur SNMPTN. Dengan terpaksa –kurang lebih- selama sebulan saya menjadi pengangguran tetapi asa untuk bertarung lagi untuk masuk universitas negeri masih belum luntur. Yang pada akhirnya saya  bisa mendapatkan kursi di universitas negeri melalui jalur SBMPTN. 

Begitulah kiranya saya mengenang masa-masa menjadi siswa tingkat akhir -2 tahun yang lalu-. Begitu banyak pelajaran hidup yang saya dapat, banyak juga perubahan-perubahan yang saya rasakan ketika pada masa transisi dari siswa ke mahasiswa. Lain kali saya ceritakan lebih lanjut perjuangan saya dalam pertarungan merebut kursi universitas negeri. Untuk kalian siswa tingkat akhir persiapkan diri kalian setelah kalian lulus dari sekolah. Buatlah rencana kedepan dari jauh-jauh hari dan bicarakan bersama orang tua kalian. Untuk kalian yang belum menjadi siswa tingkat akhir, saya hanya memberi gambaran saja bagaimana rasanya menjadi siswa kelas 12 yang sebentar lagi akan lulus dari sekolah. Anggapan bahwa akan lebih senang bila terbebas dari tugas, ulangan, pr serta aktivitas-aktivitas sekolah lainnya tidak selamanya benar. Saya sendiri sampai sekarang –walaupun masa sekolah saya tidak menyenangkan- selalu rindu dengan status siswa saya. Paling tidak ketika saya menjadi siswa beban saya tidak terlalu berat seperti sekarang ini. yang saya pikirkan hanyalah berangkat sekolah, mendengarkan guru yang sedang mengajar kemudian pulang itu saja kewajiban pokoknya. 

Semangat dan sukses bagi kalian siswa tingkat akhir yang sebentar lagi akan menghadapi berbagai ujian akhir, semoga dilancarkan dan dimudahkan. Bila ada sesuatu yang dirasa positif selama proses persiapan ujian, semoga bisa seterusnya dilakukan tidak hanya saat mau ujian saja setelah ujian hal-hal yang baik itu ditinggalkan –you know what i mean-.

Postingan Pertama

07.18

Hari yang panas, saya tidak sempat lihat suhu hari ini berapa yang pasti sejak pagi sampai sekarang (malam) hawa “ngaheab” masih terasa. apakah kalian pun merasakan hal yang sama? Saya menulis ini pada tanggal 16 Maret 2017. Awal yang sangat membingungkan, apa yang seharusnya saya tulis di postingan pertama ini? Yang pasti sejak kemarin saya mencoba terus menulis untuk postingan pertama  tapi selalu gagal.

Sepertinya kali ini topiknya seputar alasan nge-blog dan sedikit perkenalan diri walaupun sebagian sudah pada mengenal (karena saya mempromosikan blog saya di sosial media). Sebelumnya terima kasih untuk teman-teman media sosial saya yang merelakan waktu dan koutanya untuk melihat blog ini haha.


***
Sudah lama sebenarnya niatan untuk membuat blog dan menulis sebuah karya tulisan di blog tetapi masih belum punya keberanian lebih. Sempat ada niatan yang besar tapi semuanya musnah ketika mengetahui kenyataan bahwa laptop saya tidak bisa dioperasikan lagi (rusak). Selalu ada saja kendalanya dan sekarang alhamdullilah bisa selaras antara niat dan alat pendukungnya.
Awal motivasi nge-blog itu muncul ketika saya baca blognya kaesang pangarep anak dari bapak Presiden Jokowi. Postingan-postingan yang lucu dan ngalir saja gitu tulisannya membuat saya berpikir untuk membuat blog. Tapi saat itu hanya sekedar “kepikiran” saja tidak terlalu diseriuskan. Kemudian baru-baru ini saya gemar melihat vlog di youtube yang sekarang sedang booming banyak sekali orang yang nge-vlog. Sampai pada saat saya dipertemukan dengan vlognya Gita Safitri orang Indonesia yang sekarang sedang study S1 di Jerman saya lupa lagi apa gitu nama universitasnya. Vlog nya ini sangatlah mengedukasi dan inspiratif sekali bagi para subcriber nya maupun yang menonton. Karena kekaguman saya pada Gita Safitri akhirnya searching di google dan dipertemukanlah saya dengan blognya yaitu “a cup of tea”. Setelah membaca blognya kekaguman saya bertambah. Saya kagum dengan kecerdasan dan ke kritisannya dalam menghadapi suatu masalah. Tulisannya pun ringan untuk dibaca walaupun kadang kala topik yang dibahasnya berat dan serius.

Setelah melihat blog Gita ini saya mencoba mempertimbangkan kembali untuk menulis blog. Rasanya ini waktu yang tepat untuk saya menjadi seorang bloger *cieilah* walaupun kemampuan menulis saya tidak terlalu bagus. Kemampuan yang kurang itulah yang kemudian memperkuat saya untuk membuat blog karena untuk menjadi seorang penulis yang handal perlu proses dan proses itu adalah belajar dan ini adalah proses belajar saya menuju seorang penulis yang handal. Jadi mohon dimaklum jika postingannya ini kurang atau terkesan tidak bagus karena saya sendiri sedang dalam tahap belajar. Ini juga langkah awal saya dalam mempersiapkan skripsi nanti. Mengasah keterampilan dalam beragumen, beropini dan mengemukakan pendapat dalam sebuah tulisan. Kesemuanya itu akhirnya memantapkan saya untuk membuat blog.

Alasan sudah saya jelaskan sekarang ke perkenalan. Saya Januar Sutanto tinggal di Banjar Patroman dan saya seorang mahasiswa di Universitas Siliwangi. Saya di unsil mengambil jurusan pendidikan ekonomi dan sekarang sudah semester 4. Berstatus anak rantau, saya di sini tinggal di kostan . Tasikmalaya adalah tempat saya merantau walaupun jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah tetapi tetap nelangsa karena jauh dari orang tua. Sebelumnya saya sempat tinggal di Cadasari provinsi Banten sampai saya kelas 6 SD tetapi karena alasan keluarga akhirnya pindah.

Sudah cukup, rasanya sulit menulis satu paragraf saja menghabiskan waktu berjam-jam. Ini hanya sebagai awalan saja selanjutnya insyaallah postingannya tidak akan berisi curhatan saya tentang ketidakmahiran saya dalam menulis. Sekali lagi saya haturkan terima kasih untuk teman-teman yang pada kesempatan ini sudah mau dan ingin membaca postingan sampai akhir.

Like us on Facebook

Flickr Images